Sunday, November 23, 2008

J-Rocks Masuk Dapur Rekaman Abbey Road Studio, London


Berpose ala Beatles di Zebra Cross Terpopuler di Inggris

The Beatles dan Obbey Road Studio ibarat dua sisi dari mata uang. Pada 1962–1970 John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr, melahirkan lebih dari 200 lagu di studio London tersebut. J-Rocks menjadi grup band pertama Indonesia yang rekaman di sana.
CUACA Kota London di pertengahan Oktober seperti wajah wanita: suka berubah. Kemarin cerah-bersahabat, hari ini berkabut-gerimis. Daun-daun pun mulai berguguran di Hyde Park karena kedinginan. Abbey House yang bersebelahan dengan Abbey Road Studio tampak seperti rumah tak berpenghuni karena halamannya dipenuhi daun kering.
Minggu (12/10) pagi sekitar pukul 07.00 waktu London, rombongan J-Rocks, termasuk Jawa Pos (Grup Manado Post), baru tiba di Abbey Road. Udara sangat dingin. Menurut ramalan cuaca di TV BBC I, suhu Kota London dan sekitarnya mencapai 14 derajat Celsius. Tapi, pada malam hari bisa drop hingga 7 derajat Celsius.
Kami ber-16 orang tidak datang bersamaan. Awak J-Rocks dan kru tiba lebih awal dengan taksi. Mereka rupanya sudah tidak sabar untuk segera melihat dan menjadi bagian dari sejarah studio rekaman paling sohor sejagat itu. Saya sendiri bersama lima teman lain memilih naik tube karena ingin merasakan sensasi salah satu kereta bawah tanah tertua di Eropa itu.
Dari The Cumberland Hotel, kami berjalan kaki sekitar 300 meter menuju stasiun underground Marble Arch. Di sana kami membeli tiket tube mingguan dengan harga 25 pounds per tiket (1 pound = Rp 16.000). Tiket yang diberi nama Oyster itu bisa digunakan berulang-ulang (tanpa batas) selama sepekan. Bukan hanya untuk naik tube, tapi juga bus di seantero London.
Itu artinya kita bebas berkeliling menyusuri lika-liku Kota London selama seminggu dengan murah meriah. Namun, London sebagai salah satu pusat mode di dunia, lebih asyik dijelajahi dengan berjalan kaki. Kita bisa cuci mata dengan puas karena jalan-jalan utama di ibu kota Inggris itu tak ubahnya cat walk. Mau belanja, mulai yang murah hingga termahal, tersedia.
Memang, naik tube lebih lama. Sebab, kita harus berganti-ganti kereta. Belum lagi, bila tiba-tiba ada jalur yang ditutup karena alasan perbaikan. Itu yang kami alami ketika jalur Jubelee ditutup. Kami pun harus mencari jalur alternatif. Akhirnya kami memilih naik bus.
Untuk ke Abbey Road, normalnya kami harus naik tube dari Marble Arch ke Bond Street, lalu ganti tube tujuan Baker Street, dan turun di Stasiun John’s Wood, sekitar 300 meter dari Abbey Road Studio. Asyiknya lagi, di sekitar Stasiun John’s Wood ada Beatles Coffee Shop, yang menjual segala macam barang yang berhubungan dengan grup legendaris tersebut.
Setibanya di Abbey Road, saya merasa sedikit ’’kecewa’’ karena tidak melihat bangunan megah sebuah perusahaan rekaman kelas dunia seperti yang saya bayangkan. Studio terkenal tempat lagu-lagu The Beatles direkam, tempat Pink Floyd, Oasis, dan Radiohead berkarya. Tempat ilustrasi musik dalam film Lord of The Rings, Star Wars, Indiana Jones, dan Harry Potter digarap.
Dari luar, bahkan Abbey Road Studio tak tampak seperti perusahaan rekaman. Apalagi, tak ada tulisan ’’studio’’ di belakang nama Abbey Road yang tercetak di atas pintu utama bangunan itu. Tulisan EMI, nama perusahaan rekaman yang menaunginya, yang pada awal kehadirannya (1931), tercetak di belakang kata Abbey Road, kini tidak ada. Mungkin semua itu sudah tidak diperlukan lagi. Sebab, tanpa embel-embel ’’studio’’ atau ’’EMI’’, orang sudah tahu apa itu Abbey Road.
Arsitektur bangunan Abbey Road Studio juga tak lebih menonjol dibanding bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Bahkan, secara fisik Abbey Road Studio kelihatan lebih bersahaja. Orang mungkin bisa mengenali Abbey Road sebagai perusahaan recording karena di halamannya sering ada truk melakukan bongkar muat alat-alat musik kebutuhan musisi yang sedang rekaman.
Tanda khusus lain yang membuat Abbey Road Studio kelihatan berbeda dengan bangunan sekitarnya adalah kerumunan orang di zebra cross (crossing) dan tembok pagar Abbey Road yang penuh dengan coretan.
Ya, itu lantaran Abbey Road Studio kini memang bukan lagi sekadar studio rekaman. Tempat itu telah menjelma menjadi salah satu ikon pariwisata Kota London. Meski tak seramai London Tower atau Jalan Oxford (pusat wisata belanja), Abbey Road tak pernah sepi pelancong.
Keinginan mereka pun sederhana: sekadar ingin menyeberang di zebra cross Abbey Road yang amat tersohor itu. Tentu saja sambil mengabadikan diri dengan kamera. Tak terkecuali empat awak J-Rocks. Anton (drum), Sony (gitar), Wima (bas), dan Iman (vokal/gitar) juga merekonstruksi adegan yang pernah dijadikan gambar sampul album The Beatles berjudul Abbey Road (1969) itu.
Empat anggota J-Rocks berpose ala John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr saat menyeberang di zebra cross Abbey Road. Agar berbau Indonesia, mereka tidak memakai jaket atau jas seperti para personel The Beatles, melainkan baju putih lengan pendek dipadu garis-garis batik, kostum untuk foto yang sudah dipersiapkan dari Indonesia.
Tentu saja, karena tergolong berpakaian minim, mereka harus berjuang melawan hawa dingin. ’’Ayo, diulang lagi. Tadi belum pas,” teriak Anya, istri Sigit, manajer J-Rocks. Mereka harus mengulang adegan itu berkali-kali sambil menunggu arus lalu lintas sepi atau lampu untuk penyeberang menyala.
J-Rocks dan kawan-kawan tampaknya memang tak mau menyiakan-siakan peluang emas (rekaman di Abbey Road Studio London) yang mereka raih setelah menjuarai A Mild Live Soundrenaline 2008. Selain merekam lagu, mereka membikin klip video dan merancang cover single yang diberi tajuk Falling in Love itu.
Namun, J-Rocks bukan satu-satunya yang merekonstruksi sampul album Abbey Road tersebut. ’’Ratusan ribu orang dari seluruh penjuru dunia yang berkunjung ke London menyempatkan diri berfoto di crossing (zebra cross, Red) itu,’’ kata Laura, gadis penjaga Beatles Coffee Shop.
Laura mungkin asal sebut angka. Sebab, pengunjung Abbey Road memang sulit dihitung karena orang tidak diharuskan membeli tiket. Namun, angka itu juga masuk akal. Sebab, dalam pengamatan wartawan koran ini, hanya dalam tempo sekitar 30 menit, belasan orang saling bergantian berfoto ria di sana. ’’Kalau di Indonesia, pasti sudah banyak tukang foto keliling,’’ seloroh seorang teman.
Para pengunjung itu tak hanya difoto temannya saat menyeberangi zebra cross, tapi ada juga yang nekat berpose tidur-tiduran di aspal. Dan, tingkah polah para fans The Beatles itu tak ubahnya menantang bahaya. Sebab, zebra cross yang berada persimpangan Abbey Road dan Grove End Road itu termasuk jalur yang ramai kendaraan.
Terbukti, Kamis (16/10) seorang laki-laki tertabrak mobil Mercedes dan diangkut ambulans ke rumah sakit. Jiwanya selamat, tapi lukanya cukup parah. Namun, peristiwa itu seolah tak meninggalkan pesan apa-apa, karena setelah itu orang-orang tetap berfoto di zebra cross tersebut.
Sebenarnya, untuk menyaksikan apa yang terjadi di sekitar zebra cross paling terkenal seantero Inggris Raya itu, orang tak harus datang ke Abbey Road. Cukup dengan membuka website Abbey Road Studio, orang bisa menyaksikan Live from Abbey Road, yang menayangkan secara langsung apa pun yang terjadi di sana.
Zebra cross itu bukan ’’atraksi’’ satu-satunya yang bisa dilakukan para penggila The Beatles. Pengunjung juga bisa menumpahkan segala uneg-unegnya di tembok pagar Abbey Road Studio. Mereka bebas mencorat-coret tembok dengan spidol. Itu pula yang membedakan Abbey Road Studio dengan bangunan lain di sekitarnya.
Di tembok itu kita bisa melihat siapa saja yang pernah datang, dari mana asalnya, dan apa yang mereka ungkapkan. Mereka mengungkapkan kecintaan kepada The Beatles atau kepada sang kekasih. Mereka datang dari Meksiko, Argentina, Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, dan masih banyak lagi. Karena itu, bahasa yang digunakan juga tak selalu bahasa Inggris.
’’Jika sudah penuh, biasanya tembok dicat lagi. Waktunya bisa dua minggu sekali, atau bahkan satu bulan,’’ kata Peter Smith, seorang pekerja di Abbey Road Studio.
Dari coretan-coretan itu bisa dilihat bahwa pengunjung dari Asia terbanyak dari Jepang. Itu tidak aneh karena John Lennon memang mendapat tempat khusus di hati banyak orang Jepang. Sebab, dedengkot The Beatles itu menikahi Yoko Ono, seorang wanita Jepang. Pernikahan mereka langgeng hingga John Lennon tewas secara tragis karena ditembak seorang penggemar ’’gilanya’’ di New York, Amerika Serikat.
Selain zebra cross dan corat-coret tembok, pengunjung juga bisa berfoto di tangga pintu masuk Abbey Road Studio. Untuk yang satu ini, para turis asing kebanyakan masih ragu-ragu karena harus memasuki properti orang. Mereka baru berani setelah melihat rombongan J-Rocks, yang nota bene orang asing (bukan bule lagi), ternyata nongkrong di halaman Abbey Road Studio.
Saat ini baru jadi inspirasi orang untuk berfoto, siapa tahu nanti sepulang ke Indonesia J-Rocks bisa menjadi inspirasi bagi musisi tanah air lainnya untuk rekaman di Abbey Road. Siapa tahu? (jpnn/aji)

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes